Langsung ke konten utama

Postingan

SURAT UNTUK SAHABAT

Lihatlah dan kecaplah betapa nikmat persahabatan itu. Ada orang yang mengatakan, berbahagialah mereka yang memiliki sahabat. Sungguh, seperti hidangan yang nikmat di atas piring dan cawan yang kosong, demikianlah nikmatnya persahabatan di atas bumi yang kosong. Lamanya selama satu bulan rasanya, kita selalu bersama-sama. Aku merasakan telah bertemu manusia dan rasa kemanusiaan, yang membuat aku menjadi cinta akan kehidupan. Manusia dan bau kemanusiaan, aku merasakannya, walau secara tidak terlalu dalam perasaan itu. Tetapi ia cukup menggangu diri ku. Karenanya, sekali lagi hendak ku katakan, aku cinta akan kehidupan. Pada saat-saat yang lain, telah aku lihat kita menjumpai kebosanan. Tidaklah mengherankan jika itu terjadi, sebab kita telah dihadapkan pada kenyataan pahit akibat dari pilihan merdeka kita sendiri, menceburkan diri kedalam suasana yang untuk sesaat kita rasakan sebagai petaka karena masih sempitnya pandangan kita akan kenyataan itu. Betapa manusia mempunyai caranya send

PEREMPUAN YANG MENUNGGU

Kau ilalang, kembang seputih melati, diterbang angin selalu. Di padang mu sekarang aku berdiri, diantara tarian kembang mu. Berjalan bersingung sapa dengan daun mu, tersayat berdarah-darah. Aku tak mau masa mengeringkannya. Aku berjalan selalu di padang mu, meninggalkan cinta dan asa sebagai tapaknya, yang tidak dapat terhapus karena kamu senantiasa menjaganya dari angin yang membawa bunga mu seputi Melati Suci itu, yang adalah cinta mu yang kau tolongkan pada angin untuk sampaikan kepada ku. Di atas sebuah bukit kecil, ketika senja. Seseorang Perempuan bermata empat duduk disebuah kursi panjang, tampak sedang menungu seseorang. Di bawanya padang ilalang. Angin kencang datang membawa terbang bunga putihnya, sesekali ada yang mampir kerambutnya yang hitam legam, bagai barisan semut hitam yang berbaris rapi bekerja untuk kehidupan ratu mereka. Duduk di kursi itu, dia menungu seseorang lelaki. Lelaki yang tidak terlau Ia harapkan kedatangannya. Dua bulan lalu, jika tidak salah, lelaki

WILBUR LANG SCHRAMM DAN ILMU KOMUNIKASI

  Catatan Pengantar   “Bangun tidur, tidur lagi. Bangun tidur, tidur lagi. Bangu! tidur lagi.” Jika dipikir-pikir Mbah Surip ada benarnya juga, sebab kehidupan manusia memang selalu di awali dengan bagun tidur di pagi hari, dan akan ditutup dengan tidur pada malam hari. Rentang antara bangun dan tidur itulah, manusia akan disibukan dengan kegiatan hidupnya. Kehidupan manusia yang ter-rentang antara bangun dan tidur itu tadi, akan tampak kering jika tidak disertai dengan interaksi di antara sesama mereka. Misalnya ucapan “selamat pagi” dalam satu rumah, antar suami dan istri, antar anak dan orang tua, antar adik dan kaka. Diluar rumah, misalnya antara guru dan murid, antar dosen dan mahasiswa dan antar atasan dan bawahan. Ucapan selamat pagi yang dibalut dengan senyuman, itu sama seperti nikmatnya kopi dengan gorengan yang kedua-duanya sama-sama hangat yang dinikmati di pagi hari untuk menjalani hari yang seharian penuh itu sampai kepada waktu tidur lagi. Betapa nikmatnya. Ungkapan

SAKIT EKSISTENSI

Siraman sinar matahari senja membuat langit tampak kelihatan sendu. Siul burung-burung di atas pohon yang bergoyang, seperti mengikuti arahan dari angin yang datang dari arah selatan. Di bawa jembatan, aliran sungai yang kotor airnya ikut berinstrumen. Angin yang sedang lajunya menyebabkan dingin yang menggigit kulit-kulit tubuh, bekerja bak konduktor memimpin orkestra, menyanyikan lagu sendu bagi senja yang sendu. Samar, yang satu setengah jam lalu hanya duduk di kamar kosnya setelah pulang dari kampus, memutuskan untuk berlari sampai jauh. Sejauh-jauhnya sampai pikiran dan suasana hatinya yang seperti bekerja sama untuk membunuh dirinya ini pergi meninggalkannya. Membawa dia hingga kepingiran kota ini. Penyakit Eksistensialis. Begitulah Samar memberikan nama pada penyakit yang sering dideritanya itu. Beberapa kali Samar berhasil mengatasi penyakitnya ini dengan hanya menonton Youtube, bermain game atau mengobrol dengan teman-temannya. Tetapi kali ini, entah kenapa, tidak bisa dia

SUATU SORE DI PINGIRAN SEBUAH PERADABAN

Di atas tanah lapang yang tidak terlau rata, dengan rumput-rumput yang jarang, tampak si-kulit bundar berlari dan menari, melompat sebentar-sebentar dengan kegembiraan yang rasa-rasanya hampir penuh. Dibelakangnya, tampak seseorang laki-laki yang tampak tidak terlalu muda juga tidak terlalu tua, berlari mengiringinya. Pergerakan lelaki itu dalam mengolah si-kulit bundar begitu lincah menipu dan mengecoh lawan mainnya, yang lalu setelah merasa lelah dan puas akhirnya memberikan bola itu kepada teman setimnya. Husss ! tiba-tiba dengan kencangnya bola itu ditendangkan dari luar kotak pinalti, yang garisnya hilang muncul. Kencang melewat di atas mister gawang. Sipit saja. Ahhhhhh !, teriak Samar dengan sedikit nada kecewa. Menutupi wajahnya dengan kedua tangan. Samar bereaksi seperti, itu adalah tendangannya sendiri. Bola lain dimasuk-kan kedalam lapangan. Permainan pun dilanjutkan. Permainan yang hampir tanpa penonton itu, berlangsung sengit. Terjadi jual beli serangan yang begitu ramainy

BERDUA BERJALAN SENDIRI-SENDIRI

Bak meminum angur yang sama, namun tetap dengan menggunakan cawan masing-masing. Kita, kau dan aku, berjalan, sama-sama berjalan namun tetap berjalan dalam jalan kita masing-masing. Kita selalu, selalu bersua muka, bersua kata dan bersua tubuh. Ketika kita bersua itu, kita dibatasi olehnya. Ketika aku berkata kepada mu tentang sesuatu yang aku angap mendalam, dinding tipis yang ada diantara kita itu menterjemahkan kata-kata ku itu kepada mu, yang akhirnya, itu kau pahami sebagai cinta. Ya, cinta, itulah yang aku maksudkan untuk kamu pahami dan mengeti. Hahaha.....! Ia membatasi tetapi sekaligus tidak membatasi. Ya, bagaimana pun batas itu penting, agar jangan aku dan kau saling memasuki satu sama lain. Di dalam diri mu, di dalam hati terdalam mu, adalah ruang yang kau bagai Harun, yang boleh masuk untuk mempersembahkan persembahan kepada kesepian kekal. Adalah ketidak sopanan dan dosa jika aku memasuki ruangan itu. Begitu pulalah ada dalam diri ku, dan begitulah pula kau mesti bersik

REVIEW BUKU VICTOR MARIE HUGO: LES MISERABLES

  Les Miserables merupakan karya kenamaan dari Victor Marie Hugo, yang akan membesarkan namanya, Les Miserables adalah sebuah novel yang berlatar belakangkan abad-19 di Paris. Novel ini, jika kita membacanya kita akan dibawa larut dalam kehidupan para tokoh-tokoh yang ditampilkan oleh Hugo, begitu kesan yang saya dapatkan. Hugo dalam novelnya ini mampu sekali, menurut pembacaan saya terhadap novel ini, membawa kita merasakan dengan sangat setiap pengelaman hidup yang dialami oleh para tokoh-tokohnya. Akan Ia mulai dengan menampilkan sosok seorang uskup yang bersahaja, dia adalah Tuan Myril Uskup kota D. Kemudian Jean Valjean yang adalah seorang narapidana. Fantine yang adalah seseorang wanita muda yang kemudian hamil oleh pacarnya, dan harus bekerja untuk memberi makan anaknya. Tuan Myril Tuan Myril, Uskup kota D. Ketika dia diangat oleh Napoleon menjadi uskup di kota itu, Ia diberi tempat tinggal yang mengah seperti uskup pada umumnya, akan tetapi Tuan Myril hanya tinggal di istan